Senin, 25 Februari 2013

Proposal Skripsi TQM Akuntansi Manajemen 2

Pengaruh Implementasi Total Quality Management (TQM) dan Partisipasi Penyusunan Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial dengan Komitmen Organisasi Sebagai Variabel Moderating (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur XYZ di Jakarta)”.


PROPOSAL SKRIPSI
 
Oleh: ANANDA SUCITRAWAN


Program Studi Akuntansi
Konsentrasi Akuntansi Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
UIN Jakarta
2012M -1433H
 
BAB II
 
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Tinjauan  Teoritis
1.   Total Quality Management ( TQM)
a. Sejarah dan Pengertian TQM
            Total Quality Management dalam istilah Bahasa Indonesia disebut manajemen mutu terpadu dan juga disebut manajemen kualitas terpadu. Hamper lema decade yang lalu istilah TQM telah tumbuh dan berkembang. Semula ide TQM muncul pertama kali di Amerika Serikat, tetapi kemudian diorganisasikan dan dilaksanakan dibeberapa perusahaan Jepang. Dua orang pakar TQM, baik di Jepang maupun di Ameriak Serikat adalah W. Edward dan Josept. M. Juran.
Peran deming terutama mengajarkan betapa pentingnya pihak manajemen suatu perusahaan harus bertanggung jawab penuh dalam penerapan sistem kualitas produk secara total dalam menghasilkan produkyang baik dan tidak cacat. Maka, deminglah yang pertama mengintroduksi TQM dengan mencegah terjadinya produk cacat (defect product)
 TQM merupakan satu sistem yang saat ini mulai diterapkan oleh perusahaan-perusahaan karena dianggap mampu mendukung kinerja manajerialnya. . Menurut Ishikawa dalam  Nasution (200522) “TQM diartikan sebagai perpaduan semua fungsi manajemen, semua bagian dari suatu perusahaan dan semua orang ke dalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, team work, produktivitas, dan kepuasan pelanggan”.
 TQM merupakan teknik dimana manajemen mengembangkan kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik untuk meyakinkan bahwa produk dan jasa perusahaan memenuhi harapan pelanggan (Blocher et al, 2000 dalam Dwi Suhartini,2007).
TQM merupakan suatu pendekatan dalam meenjalankan usaha yang mencoba memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa, tenaga kerja, proses dan lingkungan ( Tjiptono dan Diana, 2001 ) 
TQM memiliki tujuan perbaikan kualitas terus menerus, disesuaikan dengan perubahan yang menyangkut kebutuhan, keinginan dan selera konsumen.  yang juga akan meningkatkan laba dan daya saing perusahaan. Dengan demikian TQM diawali dengan memahami apa yang diinginkan konsumen terhadap produk tertentu, dan kepuasan konsumen adalh inti kegiatan TQM. (Singgih Santono, 2007:2)
Yang membedakan TQM dengan pendekatan-pendekatan lain dalam menjalankan  adalah komponen bagaimana tersebut. Komponen ini memiliki sepuluh unsur utama yaitu fokus pada pelanggan, obsevasi terhadap kualitas, pendekatan ilmiah, komitmen jangka panjang, kerja sama tim, perbaikan system secara berkesinambungan, pendidikan dan pelatihan, kebebasan yang terkendali, kesatuan tujuan dan keterlibatan dan pemberdayaan karyawan. (Goetsh& Davis 1994 dalam Tiptono dan Diana 2001:15-16 ).
b. Manfaat TQM
Menurut (Nasution,2005:42)  manfaat TQM dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu dapat memperbaiki posisi persaingan dan meningkatkan keluaran yang bebas dari kerusakan
Adapun keunggulan perusahaan yang menerapkan TQM adalah:
1) TQM mengembangkan konsep kualitas dengan pendekatan totalitas. Kualitas  bila dipandang dari sudut pandang konsumen diartikan sebagai kesesuaian.
2)   Adanya perubahan dan perbaikan secara terus-menerus dengan menerapkanTQM perusahaan dituntut untuk selalu belajar dan berubah memperbaiki atau meningkatkan kemampuannya,
3)   Adanya upaya pencegahan artinya sejak dari perancangan produk, proses   produksi hingga menjadi produk akhir menghasilkan produk yang baik tanpa ada produk yang cacat  (zero defect) sehingga perusahaan mampu mengurangi biaya (cost reduction), menghindari pemborosan dan menghasilkan produk secara efektif dan efisien dan pada akhirnya dapat meningkatkan profit bagi perusahaan.
c.  Karakteristik dan Prinsip Total Quality Management
            TQM merupakan suatu konsep yang berupaya melaksanakan sistem manajemen kualitas tingkat dunia. Untuk itu diperlukan perubahan besar dalam budaya dan sistem nilai suatu organisasi (I Made dan Rani:2003). Menurut Hansler dan Brunell (dalamTjiptono dan Diana,2001:14) ada empat prinsip utama dalam TQM, yaitu:
1)      Kepuasan Pelanggan
2)      Respek terhadap setiap orang
3)      Manajemen berdasaarkan fakta
4)      Perbaikan berkesinambungan
Manfaat TQM adalah memperbaiki kinerja manajerial dalam mengelola perusahaan agar dapat meningkatkan penghasilan perusahaan.
Ada sepuluh karakteristik TQM yang dikembangkan oleh Goetsch dan Davis dalam Nasution (2005:22-24) .
1)      Fokus Pada Pelanggan
   Dalam TQM, baik pelanggan internal maupun pelanggan eksternal merupakan driver.  Pelanggan eksternal menentukan kualitas produk atau jasa yang disampaikan kepada mereka, sedangkan pelanggan internal berperan besar dalam menentukan kualitas tenaga kerja, proses, dan lingkungan yang berhubungan dengan produk atau jasa.
2)      Obsesi terhadap Kualitas
   Dalam organisasi yang menerapkan TQM, pelanggan internal dan eksternal menentukan kualitas.  Dengan kualitas yang ditetapkan tersebut, organisasi harus terobsesi untuk memenuhi atau melebihi apa yang ditentukan mereka.  Hal ini berarti bahwa semua karyawan pada setiap level berusaha melaksanakan setiap aspek pekerjaannya berdasarkan perspektif.  Bila suatu organisasi terobsesi dengan kualitas, maka berlaku prinsip ‘good enough is never good enough’.
3)      Pendekatan Ilmiah
   Pendekatan ilmiah sangat diperlukan dalam penerapan TQM, terutama untuk mendesain pekerjaan dan dalam proses pengambilan keputusan dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan yang didesain tersebut.  Dengan demikian, data diperlukan dan dipergunakan dalam menyusun patok duga (benchmark), memantau prestasi, dan melaksanakan perbaikan.
4)      Komitmen Jangka Panjang
   TQM merupakan suatu paradigma baru dalam melaksanakan bisnis.  Untuk itu, dibutuhkan budaya perusahaan yang baru pula.  Oleh karena itu, komitmen jangka panjang sangat penting guna mengadakan perubahan budaya agar penerapan TQM dapat berjalan dengan sukses.
5)      Kerjasama Tim (Teamwork)
   Dalam organisasi yang dikelola secara tradisional seringkali diciptakan persaingan antar departemen yang ada dalam organisasi tersebut agar daya saingnya terdongkrak.  Sementara itu, dalam organisasi yang menerapkan TQM, kerjasama tim, kemitraan, dan hubungan dijalin dan dibina, baik antar karyawan perusahaan maupun dengan pemasok, lembaga-lembaga pemerintah, dan masyarakat sekitarnya.
6)      Perbaikan Sistem Secara Berkesinambungan
   Setiap produk dan atau jasa dihasilkan dengan memanfaatkan proses-proses tertentu di dalam suatu sistem/ lingkungan.  Oleh karena itu, sistem yang ada perlu diperbaiki secara terus-menerus agar kualitas yang dihasilkannya dapat makin meningkat.
7)      Pendidikan dan Pelatihan
   Dewasa ini masih terdapat perusahaan yang menutup mata terhadap pentingnya pendidikan dan pelatihan karyawan.  Kondisi seperti itu menyebabkan perusahaan yang bersangkutan tidak berkembang dan sulit bersaing dengan perusahaan lainnya, apalagi dalam era persaingan global.  Sedangkan dalam organisasi yang menerapkan TQM, pendidikan dan pelatihan merupakan faktor yang fundamental.  Setiap orang diharapkan dan didorong untuk terus belajar.  Dengan belajar, setiap orang dalam perusahaan dapat meningkatkan keterampilan teknis dan keahlian profesionalnya.
8)      Kebebasan yang Terkendali
   Dalam TQM, keterlibatan dan pemberdayaan karyawan dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah merupakan unsur yang sangat penting.  Hal ini dikarenakan unsur tersebut dapat meningkatkan ‘rasa memiliki’ dan tanggung jawab karyawan terhadap keputusan yang telah dibuat.  Meskipun demikian, kebebasan yang timbul karena keterlibatan dan pemberdayaan tersebut merupakan hasil dari pengendalian yang terencana dan terlaksana dengan baik.
9)      Kesatuan Tujuan
   Supaya TQM dapat diterapkan dengan baik, maka perusahaan harus memiliki kesatuan tujuan.  Dengan demikian, setiap usaha dapat diarahkan pada tujuan yang sama.  Akan tetapi, kesatuan tujuan ini tidak berarti bahwa harus selalu ada persetujuan/ kesepakatan antara pihak manajemen dan karyawan, misalnya mengenai upah dan kondisi kerja.
10)  Adanya Keterlibatan dan Pemberdayaan Karyawan
   Keterlibatan dan pemberdayaan karyawan dapat meningkatkan kemungkinan dihasilkannya keputusan yang baik, rencana yang baik, atau perbaikan yang lebih efektif, karena juga mencakup pandangan dan pemikiran dari pihak-pihak yang langsung berhubungan dengan situasi kerja serta meningkatkan ‘rasa memiliki’ dan tanggung jawab atas keputusan dengan melibatkan orang-orang yang harus melaksanakannya
2. Partisipasi Penganggaran
a. Pengertian Anggaran
 Anggaran ( Budget ) merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan suatu organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang untuk jangka waktu tertentu ( M.Nafarin , 2004 :12).
Menurut Justine T.Sirait (2008), Anggaran ( kata benda) adalah hasil yang diperoleh setelah menyelesaian fungsi perencanaan, sedangkan budgeting adalah suatu proses, yakni mulai dari tahap persiapan penyusunan rencana, pengumpulan data dan informasi yang diperlukan, pembagian tugas perencanaan, penyusunan rencana itu sendiri, Implementasi rencana sampai pada tahap pengendalian, dan evaluasi hasil pelaksanaan rencana.
Terdapat beberapa jenis anggaran yang diungkapkan Anthony dan Govindarajan (2005:80-81) meliputi:
1) Anggaran Operasi
2) Anggaran Modal
3) Anggaran Neraca
4)  Anggaran Laporan Arus Kas
Secara garis besar, penyusunan anggaran dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
1) Top down approach (bersifat dari atas ke bawah)
Dalam penyusunan anggaran ini, manajemen senior menetapkan anggaran bagi tingkat yang lebih rendah sehingga pelaksana anggaran hanya melakukan apa saja yang telah disusun.
2)  Bottom up approach (bersifat dari bawah ke atas)
Anggaran sepenuhnya disusun oleh bawahan dan selanjutnya diserahkan atasan untuk mendapatkan pengesahan. Dalam pendekatan ini, manajer tingkat yang lebih rendah berpartisipasi dalam menentukan besarnya anggaran.
3) Kombinasi top down dan bottom up
Kombinasi antara kedua pendekatan inilah yang paking efektif. Pendekatan ini menekankan perlunya interaksi antara atasan dan bawahan secara bersama sama menetapkan anggaran yang terbaik bagi perusahaan.
b. Manfaat-Manfaat Anggaran
       Anggaran merupakan bagian penting dari sistem pengendalian manajemen. Menurut Horgren et.all (2008:215) jika dikelola secara baik, sebuah anggaran akan :
1)      Mendorong perencanaan strategis dan pengimplementasian rencana tersebut.
2)      Menjadi kerangka kerja untuk menilai kinerja.
3)      Memotivasi para manajer dan karyawan
4)      Meningkatkan koordinasi dan komunikasi di antara berbagai subunit dalam perusahaan.
Menurut Anthony dan Govindarajan (2005:75) fungsi anggaran antara lain menyelaraskan rencana strategis, membantu pengoordinasian aktivitas dari beberapa organisasi, pendelegasian tanggung jawab kepada manajer, dan memperoleh komitmen yang merupakan dasar untuk mengevaluasi.
c. Kelemahan Anggaran
Meskipun penyusunan anggaran banyak bermanfaat tetapi masih terdapat kelemahan-kelemahan yang membatasi anggaran. Menurut Hansen dan Mowen (2007:336), kelemahan-kelemahan anggaran antara lain:
1)   Anggaran disusun berdasarkan taksiran-taksiran (forecasting). Betapapun cermatnya taksiran tersebut dibuat namun amatlah sulit untuk medapatkan taksiran yang benar-benar akurat dan kemudian sama sekali tidak berbeda dengan kenyataannya nanti.
2)   Taksiran-taksiran dalam anggaran disusun dengan mempertimbangkan berbagai data, informasi, dan faktor-faktor baik yang contrallable maupun yang uncontrollable. Dengan demikian, jika nantinya terjadi perubahan-perubahan terhadap data, informasi serta faktor-faktor tersebut akan merubah pula ketetapan taksiran-taksiran yang telah disusun tersebut.
3)   Berhasil atau tidaknya pelaksanaan (realisasi) anggaran sangat tergantung pada manusia-manusia pelaksananya. Anggaran yang baik tidak akan bisa direalisasikan bilamana para pelaksananya tidak mempunyai keterampilan serta kecakapan yang memadai.
d. Partisipasi Anggaran
Partisipasi anggaran adalah tingkat seberapa jauh keterlibatan dan pengaruh individu (manajer) dalam proses penyusunan anggaran yang ada di dalam divisi  atau suatu instansi  untuk melakukan kegiatan dalam pencapaian sasaran yang telah ditetapkan dalam anggaran ( Bambang dan Osmad, 2008:45)
Partisipasi penganggaran adalah keikutsertaan para manajer tingkat bawah untuk ikut serta dalam proses pembuatan anggaran. Biasanya, tujuan umum dikomunikasikan ke manajer, yang membantu mengembangkan anggaran yang akan memenuhi tujuan-tujuan tersebut (Hansen Mowen 2007:335)
Penyusunan anggaran partisipatif adalah sangat menguntungkan untuk pusat tanggung jawab yang beroperasi dalam lingkungan yang dinamis dan tidak pasti karena manajer yang bertanggung jawab atas pusat tanggung jawab semacam itu kemungkinan besar memiliki informasi terbaik mengenai variabel yang mempengaruhi pendapatan dan beban mereka (Anthony dan Govindarajan (2005: 87)
Menurut Anthony dan Govindarajan (2005: 87), partisipasi dalam penyusunan anggaran memiliki dampak positif karena dua alasan:
1)   Kemungkinan ada penerimaan yang lebih besar atas cita-cita anggaran jika anggaran dipandang berada dalam kendali pribadi manajerdibandingkan bila secara eksternal.
2)      Hasil penyusunan anggaran partisipatif adalah pertukaran informasi yang efektif.
Proses penyusunan anggaran merupakan kegiatan yang penting dan melibatkan berbagai pihak baik manajer tingkat atas maupun manajer tingkat bawah (desentralisasi ) yang akan mainkan peranan dalam  mempersiapkan dan mengevaluasi berbagai alternatif dari tujuan anggaran, dimana anggaran senantiasa digunakan sebagai tolak ukur kinerja manajer
3.      Kinerja Manajerial
Kinerja merupakan faktor penting yang digunakan dlaam pengukuran efektifitas dan efisiiensi organisasi. Menurut Berbardin dan Russel dan Russel dalam( Achmad S Ruki, 2001;15) “ Performance is defined as the record of outcomes produces produced on a specified time period” (Kinerja adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu).
            Sedangkan menurut Mahoney dalam (Aida dan listiningsih:2005) kinerja adalah hasil kerja yang daapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Kinerja manajerial adalah kinerja para individu dalam kegiatan manajerial sehingga kinerja manajerial adalah salah satu faktor yang dapat meningkatkan efektifitas organisasional.
Kinerja personel meliputi delapan demensi yaitu:
1) perencanaan, dalam arti kemampuan untuk menentukan tujuan, kebijakan dan tindakan/pelaksanaan, penjadwalan kerja, penganggaran, merancang prosedur, dan pemrograman.
2)  investigasi, yaitu kemampuan mengumpulkan dan menyampaikan informasi untuk catatan, laporan, dan rekening, mengukur hasil, menentukan persediaan, dan analisis pekerjaan
3) pengkoordinasian, yaitu kemampuan melakukan tukar menukar informasi dengan orang lain di bagian organisasi yang lain untuk mengkaitkan dan menyesuaikan program, memberitahu bagian lain, dan hubungan dengan manajer lain.
4) evaluasi, yaitu kemampuan untuk menilai dan mengukur proposal, kinerja yang diamati atau dilaporkan, penilaian pegawai, penilaian catatan hasil, penilaian laporan keuangan, pemeriksaan produk.
5) pengawasan (supervisi), yaitu kemampuan untuk mengarahkan, memimpin dan mengembangkan bawahan, membimbing, melatih dan menjelaskan peraturan kerja pada bawahan, memberikan tugas pekerjaan dan menangani bawahan.
6) pengaturan staff (staffing), yaitu kemampuan untuk mempertahankan angkatan kerja dibagian anda, merekrut, mewawancarai dan memilih pegawai baru, menempatkan, mempromosikan dan mutasi pegawai.
7)  negosiasi, yaitu kemampuan dalam melakukan pembelian, penjualan atau melakukan kontrak untuk barang dan jasa, menghubungi pemasok, tawar menawar dengan wakil penjual, tawar-menawar secara kelompok.
8)  perwakilan (representatif), yaitu kemampuan dalam menghadiri pertemuanpertemuan dengan perusahaan lain, pertemuan perkumpulan bisnis, pidato untuk acara-acara kemasyarakatan, pendekatan kemasyarakatan, mempromosikan tujuan umum perusahaan
Tujuan utama penilaian kinerja dalah untuk memotivasi personil dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam memahami standard.
4.      Komitmen Organisasi
Komitmen organisasi didefinisikan sebagai dorongan dari dalam diri individu untuk melakukan sesuatu agar dapat menunjang keberhasilan organisasi sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dan lebih mengutamakan kepentingan organisasi diabndingkan dengan kepentingannya sendiri (Wiener dalam Evi Yuniarti dan Fadilla:2008).
Bagi individu dengan komitmen organisasi yang tinggi, pencapaian tujuan organisasi merupakan hal yang diprioritaskan. Individu dengan komitmen organisasi yang kuat dalam dirinya akan berusaha keras untuk mencapai tujuan organisasi serta berbuat yang terbaik demi kepentingan organisai. Sebaliknya, individu dengan komitmen organisasi yang rendah akan mempunyai perhatian yang rendah dalam pencapaian tujuan organisasi dan cenderung berusahan memenuhi kepentingan pribadinya. (Kadek dan I ketut:2010)
B.     Keterkaitan Antar Variabel dan Hipotesis Penelitian
1. Hubungan Total Quality Management dan Kinerja Manajerial
Perusahaan yang menetapkan TQM akan menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan, sehingga tidak ada pengulangan  pekerjaan atau pengurangan upah dan pengurangan pemborosan yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja manajerial. Tujuan  perusahaan dalam menghasilkan produk berkualitas adalah tercapainya kepuasan pelanggan yang ditandai dengan berkurangnya keluhan dari pelanggan sehingga dapat meningkatkan kinerja manajerial.
Perusahaan yang berfokus pada perbaikan terus-menerus, melibatkan dan memotivasi karyawan untuk mencapai kualitas output dan fokus pada kepuasan kebutuhan pelanggan lebih mungkin untuk mengungguli perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki fokus ini. Dengan demikian, kita dapat berharap bahwa sejauh organisasi menerapkan praktek TQM, kinerja harus meningakat (Therese Joiner, 2007:618).
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka hipotesis alternatif yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
Ha1     : TQM mempunyai pengaruh yang positif terhadap kinerja manajerial
2.  Hubungan Partisipasi Pengangaran dan Kinerja Manajerial
Anggaran pertisipartif dapat dinilai sebagai pendekatan manajerial yang dapat meningkatkan kinerja setiap anggota organisasi sebagai individual karena dengan adanya partisipasi dalam penyusunan anggaran diharapkan setiap individu mampu meningkatkan kinerjanya sesuai denga target yang telah ditetapkan sebelumnya. (Bambang Osmad, 2008:39)
Menurut Brownell (1982) dalam Bambang Osmad (2008,39) pengaruh anggaran partisipatif pada kinerja manajerial merupakan tema pokok yang menarik dalam penelitian akuntansi manajemen. Hal ini disebabkan karena partisipasi umumnya dinilai sebagai suatu pendekatan manajerial yang dapat meningkatkan kinerja anggota organisasi.
Berdasarkan penjelasan tersebut , rumusan hipotesis penelitian adalah:
Ha2     : Partisipasi penyusunan anggaran berpengaruh secara positif dan signifikan pada kinerja manajerial.
3.   Hubungan Komitmen Organisasi dan TQM terhadap Kinerja Manajerial
Komitmen yang tinggi akan nyata dalam kesuksesan penerapan TQM apabila kompetensi yang sesuai dapat merealisasikannya. Berhasil atau tidaknya penerapan TQM sangat ditentukan dorongan komitmen pimpinan puncak untuk bersinerji dengan persepsi manajer divisi. (Hiras Pasaribu:2009:68).
H3       : Komitmen Organisasi mempunyai pengaruh terhadap hubungan antara TQM terhadap kinerjamanajerial yang positif bila komitmen organisasi kuat dan negative bila komitmen organisasi lemah
4.  Hubungan Komitmen Organisasi dan Partisipasi Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial
Salah satu fungsi dari partisipasi anggaran adalah sebagai sarana komunikasi antara bawahan dan atasan , tidak hanya seputar seputar masalah anggaran, tetapi juga isu masalah lain yang berkaitan. Partisipasi anggaran memungkinkan bawahan untuk bertukar dan mencari informasi dari atasan mereka, yang tentunya juga akan mendukung terciptanya pemahaman yang lebih mendalam mengenai proses penentuan anggaran dan urusan keorganisasian lain. (Jaqueline,2009:296).
Kecukupan  anggaran tidak secara langsung meningkatkan prestasi kerja, tetapi juga secara tidak langsung (moderasi) melalui komitmen organisasi. (Bambang Osmad:2008:40)
Komitmen organisasi yang kuat akan mendorong para manajer bawah berusaha keras mencapai tujuan organisasi (Angel dan Perry dalam Bambang Osmad:2008:40) dan  menjadikan individu lebih mementingkan organisasi dibanding kepentingan pribadi dan berupaya untuk menjalankan organisasi menjadi lebih baik.  
Berdasarkan penjelasan tersebut , rumusan hipotesis penelitian adalah:
Ha4 : Komitmen Organisasi mempunyai pengaruh terhadap hubungan antara Partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial yang positif bila komitmen organisasi kuat dan  negatif bila komitmen organisasi lemah
C.    Penelitian- Penelitian Terdahulu
Dalam penelitian ini disebutkan beberapa hasil penelitian penelitian sebelumnya sebagai acuan dalam studi ini. Beberapa penelitian terdahulu yang menghubungkan TQM dengan kinerja manajerial serta partisipasi anggaran dengan kinerja manajerial yang menjadi referensi penelitiian ini dapat dirangkum pada tabel dibawah ini dengan keterangan simbol :


D.    Kerangka Pemikiran
Untuk memperoleh keunggulan daya saing dunia dalam bisnis, harus mampu menyajikan setiap proses yang lebih baik dalam rangka menghasilkan produk berkualitas dengan harga wajar dan mampu bersaing. Strategi penting guna meningkatkan daya saing adalah melalui kualitas, dalam hal ini Total Quality Management. Total Quality management bertujuan untuk menghasilkan produk berkualitas guna tercapainya kepuasan pelanggan yang ditandai dengan berkurangnya komplain pelanggan. Hal ini berarti menunjukan kinerja yang semakin meningkat.
Partisipasi anggaran berarti sebagai keikutsertaan manager dan staff dalam penyusunan anggaran. Semakin tinggi tingkat partisipasi secara umum dapat tingkatkan kinerja yang akhirnya dapat mendukung tercapainya tujuan perusahaan baik segi keuntungan ekonomi dan efektifitas organisasi
Kerangka pikir penelitian menggambarkan hubungan dari variable independen dalam hal ini adalah TQM (X1), Partisipasi Anggaran (X2) , terhadap variable dependent yaitu Kinerja Manajerial (Y) dengan variable moderating berupa Komitmen Organisasi (X3).   
SKEMA KERANGKA PEMIKIRAN :
 Pengaruh Implementasi Total Quality Management dan Partisipasi Penyusunan Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial dengan Komitmen Organisasi sebagai Variabel Moderating (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur XYZ  diJakarta)
Metode Analisis :
Model Regresi Linear Sederhana dan Regresi Linear Berganda (MRA)
             Variabel Independen                                                   Variabel Dependen
TQM (X1)
Therese A Joire (2007)
Dwi Suhartini (2007)
Hiras Pasaribu (2009)
I Made Narsa dan Rani DY (2003)
KINERJA MANAJERIAL (Y)
Therese A Joire (2007)
Dwi Suhartini (2007)
Hiras Pasaribu (2009)
I Made Narsa dan Rani DY (2003)
Jaqueline Tangkau (2009)
Dr. Elek Meker (2007)
Bambang Sarjito&Osmad (2008)
Yuniarti dan FadilahEvi (2008)
KOMITMEN ORGANISASI (X3)
Dr. Elek Meker (2007)
Hiras Pasaribu (2009)
Jaqueline Tangkau (2009)
Bambang Sarjito&Osmad Muthaher (2008)
PARTISIPASI ANGGARAN (x2)
Jaqueline Tangkau (2009)
Dr. Elek Meker (2007)
Bambang Sarjito&Osmad (2008)
Yuniarti dan FadilahEvi (2008)
V.MODERATING
Fenomena-Fenomena  dasar implementasi TQM dan Partisipasi Anggaran ( Era pasar bebas, AFTA – ACFTA)
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar